PENGUKURAN
( KARYA TULIS )
Diajukan untuk Memenuhi salah satu Tugas Karya Tulis
Ilmiah
di SMA Negeri 1 MARIORIWAWO
DISUSUN OLEH :
Nama : NUR
RAHMAH
Kelas : X.IA.1 (EC)
PEMERINTAH
KABUPATEN SOPPENG
DINAS
PENDIDIKAN
SMA NEGERI 1
MARIORIWAWO
LEMBAR
PENGESAHAN :
|
|
Menyetujui/mengesahkan
Pembimbing
SUYUTI,S.Pd.,M.Si.
|
|
|
|
|
|
|
Kepala Sekolah
NAHARUDDIN
S.Pd.,M.Si.
|
|
Wali Kelas
Drs.MISI
|
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke
hadirat Tuhan Yang Mahaesa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah, karya
tulis ilmiah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Adapun tujuan
penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Karya Tulis
Ilmiah di SMA Negeri 1 marioriwawo. Dengan membuat karya tulis ini, penulis
mengharapkan mampu menambah pengetahuan tentang pengukuran khususnya bagi
penulis dan umumnya bagi pembaca.
Dalam
penyusunan karya ilmiah ini, penulis banyak mengalami kesulitan, terutama
disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan. Namun berkat bimbingan dan bantuan
dari berbagai pihak, akhirnya karya ilmiah ini dapat terselesaikan dengan cukup
memuaskan.
Penulis sadar, sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses
pembelajaran, penulisan karya ilmiah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif
dan membangun, guna penulisan karya ilmiah yang lebih baik lagi di masa yang
akan datang. Harapan penulis, semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat
khususnya bagi penulis, umumnya bagi pembaca.
TAKALALA,16 AGUSTUS
2014
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar..................................................................................................................i
Daftar Isi...........................................................................................................................ii
Bab I : Pendahuluan :
Latar
Belakang..............................................................................1
Rumusan
Masalah.........................................................................1
Tujuan...........................................................................................1
Manfaat.........................................................................................1
Bab
II :
Pembahasan........................................................................................................2
Bab
III : Penutup :
Kesimpulan......................................................................................21
Saran................................................................................................22
Daftar
Pustaka.................................................................................................................23
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penulis mengambil judul ini karena
sebelumnya pak guru telah menentukan judul untuk karya tulis ilmiah ini.
Penulis berharap dengan adanya karya tulis ini, bisa bermanfaat bagi pembaca tentang
ukuran dan keteratutan yang berhubungan dengan hikmah Allah.
Metode yang digunakan dalam
penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah metode eksperimen, dimana penulis
melakukan percobaan menggunakan alat ukur panjang dan massa. Tidak hanya itu,
untuk memperkuat penelitian ini, penulis juga melakukan study literatur, yaitu
penulis mengumpulkan berbagai buku sumber sebagai pelengkap informasi.Semoga
karya tulis ilmiah yang sederhana ini bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.
B. RUMUSAN
MASALAH
Ø Menjelaskan cara menggunakan alat-alat ukur dengan baik dan benar
Ø Menjelaskan cara membaca skala
Ø Menjelaskan
cara menuliskan hasil pengukuran
Ø Menjelaskan
prinsip-prinsip pengukuran
Ø Menjelaskan
aturan angka penting
Ø Menjelaskan
pengertian Besaran pokok dan besaran Turunan
C.
TUJUAN
Ø Untuk mengetahui cara menggunakan alat-alat ukur
dengan baik dan benar.
Ø Untuk mengetahui cara membaca skala
Ø Untuk mengetahui cara menuliskan hasil pengukuran
Ø Untuk mengetahui prinsip-prinsip pengukuran
Ø Untuk mengetahui aturan angka penting
Ø Untuk
pengertian Besaran pokok dan besaran Turunan
D.
MANFAAT
Ø Dapat menggunakan alat-alat ukur dengan baik dan
benar.
Ø Dapat mengetahui cara membaca skala
Ø Dapat mengetahui cara menuliskan hasil pengukuran
Ø Dapat menegetahui prinsip-prinsip pengukuran
Ø Dapat mengetahui aturan angka penting
Ø Dapat
mengetahui pengertian Besaran pokok dan besaran Turunan
BAB II
PEMBAHASAN
Mengukur ialah membandingkan suatu sunnahtullah
yang diukur dengan sesuatu lain yang sejenis yang ditetapkan sebagai satuan.Besaran
adalah suatu sunnahtullah yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka.Satuan
adalah suatu sunnahtullah yang dapat digunakan sebagai pembanding dalam
melakukan kegiatan pengukuran.Dalam pengukuran anda mungkin menggunakan satu
instrument (alat ukur)/lebih untuk menentukan nilai dari suatu besaran
fisis.Hal yang harus diperhatikan ketika melakukan pengukuran adalah memilih
dan merangkaikan instrument secara benar.Selanjutnya menentukan langkah-langkah
pengukuran dengan benar dan membaca nilai yang ditunjukkan instrument secara
tepat. Ketika anda menghitung suatu besaran fisis dengan menggunakan
instrument,tidaklah mungkin anda akan mendapatkan nilai besaran X0,melainkan
selalu terdapat nilai ketidakpastian.Ketidakpastian pengukuran yaitu perbedaan
antara dua hasil pengukuran,ketidakpastian juga disebut kesalahan,sebab
menunjukkan perbedaan antara nilai yang diukur dengan nilai yang sebenarnya.
Alat ukur yang sering digunakan di
laboratorium adalah jangka sorong, dan mikrometer sekrup,neraca ohauss serta
stopwatch. Semua jenis alat ukur tersebut akan dibahas di dalam makalah
ini.Selain itu, di dalam makalah ini juga akan dibahas mengenai hubungan ukuran
dan keteratutan dengan hikmah allah.
Dalam melakukan percobaan selalu
memerlukan pengukuran-pengukuran yang teliti agar gejala alam yang dipelajari
dapat dijelaskan atau diramalkan dengan tepat.Belajar dengan menggunakan media
alam merupakan salah satu amalan yang diperintahkan Allah SWT agar manusia
menjadi lebih bersyukur.Sehingga dengan sendirinya manusia menyadari bahwa
sesungguhnya alam ini adalah bukti kekuasaan Allah,Tuhan yang berhak disembah
dan ternyata tidak ada ciptaan Allah SWT yang sia-sia,semua diciptakan dengan
ukuran dan tujuan yang benar.Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah
Ali Imran(3) ayat 190-191 :
Artinya: Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
Artinya :
(yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
JANGKA
SORONG
Jangka sorong merupakan salah satu alat ukur yang
dilengkapi dengan skala nonius, sehingga tingkat ketelitiannya mencapai 0,02 mm
dan ada juga yang ketelitiannya 0,05 mm. Tanpa nonius, jangka sorong mempunyai
nst (nilai skala terkecil) skala utama sebesar 1 mm dan batas ukur mencapai 150
mm. Pada nonius jangka sorong biasanya didapatkan 49 skala utama sama dengan 50
bagian skala nonius. Sehingga jarak antara 2 skala nonius yang berdekatan
adalah 49/50 = 0,98 mm. Jadi, nst skala nonius sebesar :
Nst = 1 mm – 0,98 mm = 0,02 mm
Atau
Nst = (nst tanpa nonius) = (1 mm) = 0,02 mm
Ket:
n = jumlah skala nonius
0,02 mm merupakan nst nonius dan besarnya ketelitian jangka sorong.
Nst = 1 mm – 0,98 mm = 0,02 mm
Atau
Nst = (nst tanpa nonius) = (1 mm) = 0,02 mm
Ket:
n = jumlah skala nonius
0,02 mm merupakan nst nonius dan besarnya ketelitian jangka sorong.
Jangka sorong terdiri dari dua bagian, bagian diam dan
bagian bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan
ketelitian pengguna maupun alat. Sebagian keluaran terbaru sudah dilengkapi
dengan bacaan digital. Pada versi analog, umumnya tingkat ketelitian adalah
0.05mm untuk jangka sorang dibawah 30cm dan 0.01 untuk yang diatas 30cm.
Secara umum, jangka sorong terdiri atas 2 bagian yaitu rahang tetap dan rahang geser. Jangka sorong juga terdiri atas 2 bagian yaitu skala utama yang terdapat pada rahang tetap dan skala nonius (vernier) yang terdapat pada rahang geser.
Secara umum, jangka sorong terdiri atas 2 bagian yaitu rahang tetap dan rahang geser. Jangka sorong juga terdiri atas 2 bagian yaitu skala utama yang terdapat pada rahang tetap dan skala nonius (vernier) yang terdapat pada rahang geser.
Ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pengukuran dengan menggunakan
jangka sorong, yaitu:
1. Sebelum melakukan pengukuran bersihkan jangka sorong dan benda yang akan diukurnya.
2. Sebelum jangka sorong digunakan, pastikan skala nonius dapat bergeser dengan bebas.
3. Pastikan angka "0" pada kedua skala bertemu dengan tepat.
4. Sewaktu mengukur usahakan benda yang diukur sedekat mungkin dengan skala utama. Pengukuran dengan ujung gigi pengukur menghasilkan pengukuran yang kurang akurat.
5. Tempatkan jangka sorong tegak lurus dengan benda yang diukur.
6. Tekanan pengukuran jangan terlampau kuat, karena akan menyebabkan terjadinya pembengkokan pada rahang ukur maupun pada lidah pengukur kedalaman. Jika sudah pas, kencangkan baut pengunci agar rahang tidak bergeser, tetapi jangan terlalu kuat karena akan merusak ulir dari baut pengunci.
7. Dalam membaca skala nonius upayakan dilakukan setelah jangka sorong diangkat keluar dengan hati-hati dari benda ukur.
8. Untuk mencegah salah baca, miringkan skala nonius dampai hampir sejajar dengan bidang pandangan, sehingga akan memudahkan dalam melihat dan menentukan garis skala nonius yang segaris dengan skala utama.
9. Untuk mencegah karat, bersihkan jangka sorong dengan kain yang dibasahi oleh oli setelah dipakai.
1. Sebelum melakukan pengukuran bersihkan jangka sorong dan benda yang akan diukurnya.
2. Sebelum jangka sorong digunakan, pastikan skala nonius dapat bergeser dengan bebas.
3. Pastikan angka "0" pada kedua skala bertemu dengan tepat.
4. Sewaktu mengukur usahakan benda yang diukur sedekat mungkin dengan skala utama. Pengukuran dengan ujung gigi pengukur menghasilkan pengukuran yang kurang akurat.
5. Tempatkan jangka sorong tegak lurus dengan benda yang diukur.
6. Tekanan pengukuran jangan terlampau kuat, karena akan menyebabkan terjadinya pembengkokan pada rahang ukur maupun pada lidah pengukur kedalaman. Jika sudah pas, kencangkan baut pengunci agar rahang tidak bergeser, tetapi jangan terlalu kuat karena akan merusak ulir dari baut pengunci.
7. Dalam membaca skala nonius upayakan dilakukan setelah jangka sorong diangkat keluar dengan hati-hati dari benda ukur.
8. Untuk mencegah salah baca, miringkan skala nonius dampai hampir sejajar dengan bidang pandangan, sehingga akan memudahkan dalam melihat dan menentukan garis skala nonius yang segaris dengan skala utama.
9. Untuk mencegah karat, bersihkan jangka sorong dengan kain yang dibasahi oleh oli setelah dipakai.
Karena
memiliki ketelitian mencapai 0,02 mm, jangka sorong dapat digunakan untuk
mengukur diameter luar, diameter dalam, dan ketinggian suatu benda dengan lebih
teliti.
Cara
menggunakan jangka sorong
A). Mengukur
diameter luar
Untuk mengukur diameter luar sebuah benda (misalnya kelereng) dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut
* Geserlah rahang geser jangka sorong kekanan sehingga benda yang diukur dapat masuk diantara kedua rahang (antara rahang geser dan rahang tetap)
* Letakkan benda yang akan diukur diantara kedua rahang.
* Geserlah rahang geser kekiri sedemikian sehingga benda yang diukur terjepit oleh kedua rahang
* Catatlah hasil pengukuran anda
B). Mengukur
diameter dalam
Untuk
mengukur diameter dalam sebuah benda (misalnya diameter dalam sebuah cincin)
dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
* Geserlah rahang geser jangka sorong sedikit kekanan.
* Letakkan benda/cincin yang akan diukur sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong masuk ke dalam benda/cincin tersebut
* Geserlah rahang geser kekanan sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong menyentuh kedua dinding dalam benda/cincin yang diukur
* Catatlah hasil pengukuran anda
* Geserlah rahang geser jangka sorong sedikit kekanan.
* Letakkan benda/cincin yang akan diukur sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong masuk ke dalam benda/cincin tersebut
* Geserlah rahang geser kekanan sedemikian sehingga kedua rahang jangka sorong menyentuh kedua dinding dalam benda/cincin yang diukur
* Catatlah hasil pengukuran anda
Untuk
mengukur kedalaman sebuah benda/tabung dapat dilakukan dengan langkah sebagai
berikut :
* Letakkan tabung yang akan diukur dalam posisi berdiri tegak.
* Putar jangka (posisi tegak) kemudian letakkan ujung jangka sorong ke permukaan tabung yang akan diukur dalamnya.
* Geserlah rahang geser kebawah sehingga ujung batang pada jangka sorong menyentuh dasar tabung.
* Catatlah hasil pengukuran anda.
* Letakkan tabung yang akan diukur dalam posisi berdiri tegak.
* Putar jangka (posisi tegak) kemudian letakkan ujung jangka sorong ke permukaan tabung yang akan diukur dalamnya.
* Geserlah rahang geser kebawah sehingga ujung batang pada jangka sorong menyentuh dasar tabung.
* Catatlah hasil pengukuran anda.
Cara membaca
skala dan penulisan hasil pengukuran :
1). Bacalah
skala utama yang berimpit di depan titik nol pada skala nonius (SU).
2). Bacalah skala nonius yang tepat berimpit dengan skala utama (SN).
3). Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan :
Hasil = SU + (SN x nst jangka sorong, mis:0,01 mm)
2). Bacalah skala nonius yang tepat berimpit dengan skala utama (SN).
3). Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan :
Hasil = SU + (SN x nst jangka sorong, mis:0,01 mm)
Contoh
penunjukan skala pada jangka sorong :
Pada gambar di atas skala utama (SU) 62 mm. Skala nonius (SN) 4 skala.
Pada gambar di atas skala utama (SU) 62 mm. Skala nonius (SN) 4 skala.
Sehingga, didapatkan hasil
pengukuran sebesar :
H = SU + (SN
x 0,1 mm)
= 62 mm +( 4
. 0,1 mm)
= 62 mm +
0,4 mm
= 62,4 mm
MIKROMETER
SEKRUP
Mikrometer
sekrup adalah alat ukur panjang yang memiliki tingkat ketelitian tertinggi.
Tingkat ketelitian mikrometersekrup mencapai 0,01 mm atau 0,001 cm. Dengan
ketelitiannya yang sangat tinggi, mikrometersekrup dapat digunakan untuk
mengukur dimensi luar dari benda yang sangat kecil maupun tipis seperti kertas,
pisau silet, maupun kawat. Secara luas, mikrometersekrup digunakan sebagai alat
ukur dalam teknik mesin elektro untuk mengukur ketebalan secara tepat dari
blok-blok, luar dan garis tengah dari kerendahan dan batang-batang slot.
Mikrometer memiliki 3 jenis umum pengelompokan yang didasarkan pada aplikasi
berikut :
Bagian utama mikrometer sekrup ialah
sebuah poros berulir yang terpasang pada sebuah silinder pemutar yang disebut
Bidal. Poros berulir masuk mengulir pad silinder berskala 0,01 mm dan 0,5 mm.
Silinder berskala ini tepat dilingkup oleh silinder pemutar ter bagi oleh
garis-garis skala menjadi 50 bagian yang sama. Ulir pada batang silinder
pemutar mempunyai ketepatan 0,5mm, ini artinya kalau ulir silinder diputar satu
putaran, ia maju atau mundur 0,5 mm, karena silinder pemutar memiliki 50 skala
disekelilingnya. Kalau silinder pemutar berputar sebesar satu skala , batang
silinder maju atau mundur 0,5/50 mm = 0,01 mm atau 0,001 cm. Dengan demikian
skala pada silinder berskala menunjukkan ukuran dalam milimeter dan tengahan
milimeter, sedangkan skala pada silinder pemutar menunjukkan ukuran dalam
persatuan milimeter.
Mikrometer sekrup
memiliki batas ukur maksimal 25mm. Tanpa skala nonius, nst skala utama alat ini
adalah ,5 mm karena pada jarak 25mm skala utama terbagi dalam 50 skala.
Sehingga jarak dua skala terdekat = 0,5 mm
Mikrometer sekrup memiliki skala nonius putar yang terdiri atas 50 skala ( untuk satu kali putar ) yang sama harganya dengan jarak satu skala utama. Maka, nst nonius :
Nst nonius = 0,01 mm
0,01 merupakan nst skala nonius sekaligus merupakan ketelitian mikrometersekrup.
Benda yang ukurannya sangat tipis seperti kertas atau kawat yang ukurannya sangat kecil tidak dapat diukur menggunakan jangka sorong. Untuk mengukur dimensi luar dari benda yang sangat tipis digunakan mikrometer sekrup. Seperti halnya jangka sorong, mikrometer sekrup juga memiliki dua skala, yaitu skala utama dan skala nonius.
Mikrometer sekrup memiliki skala nonius putar yang terdiri atas 50 skala ( untuk satu kali putar ) yang sama harganya dengan jarak satu skala utama. Maka, nst nonius :
Nst nonius = 0,01 mm
0,01 merupakan nst skala nonius sekaligus merupakan ketelitian mikrometersekrup.
Benda yang ukurannya sangat tipis seperti kertas atau kawat yang ukurannya sangat kecil tidak dapat diukur menggunakan jangka sorong. Untuk mengukur dimensi luar dari benda yang sangat tipis digunakan mikrometer sekrup. Seperti halnya jangka sorong, mikrometer sekrup juga memiliki dua skala, yaitu skala utama dan skala nonius.
Beberapa hal yang diperlukan sewaktu
menggunakan mikrometer sekrup:
1.Permukaan benda ukur,
mulut ukur dari mikrometer sekrup harus dibersihkan dahulu adanya kotoran,
terutama bekas proses pengukuran dapat menyebabkan kesalahan ukur maupun
merusak permukaan mulut ukur.
2.Sebelum dipakai
kedudukan nol mikrometer sekrup harus diperiksa. Kedudukan nol disetel dengan
cara merapatkan mulut ukur dengan ketelitian silindet tetap diputar dengan
memakai kunci penyetel sampai garis referensi dari skala tetap bertemu dengan
garis nol dari skala putar.
3.Bukalah mulut ukur
sampai sedikit melebihi dimensi objek ukur. Apabila dimensi tersebut cukup satu
bar maka poros ukur dapat digerakkan dengan cepat dengan cara menyelindingkan
silinder putat pada telapak tangan. Jangan sekali-kali memutar rangkanya dengan
memegang silinder putar seolah-olah memegang mainan kanak-kanak.
4.Benda ukur dipegang
dengan tangan kiri dan mikrometer sekrup di telapak tangan kanan, dan ditahan
oleh kelingking, jari manis, serta jari tengah. Telunjuk dan ibu jari dugunakan
untuk memutar silinder pusat.
Pada waktu mengukur,
maka penekanan poros ukur benda ukur tidak boleh terlalu keras sehingga
memungkinkan kesalahan ukur karena adanya deformasi (perubahan bentuk) dari
benda ukur maupun alat ukurnya sendiri. Kecermatan pengukuran tergantung atas
penggunaan tekanan pengukuran yang cukup dan selalu tetap. Hal ini dapat
dicapai dengan cara memutar silinder putar melalui gigi gelincir atau tabung
gelincir atau sewaktu poros ukur hampir mencapai permukaan benda ukur.
Untuk
menggunakan mikrometer sekrup dapat dilakukan dengan langkah berikut :
1. Pastikan pengunci dalam keadaan terbuka
1. Pastikan pengunci dalam keadaan terbuka
2. Bukalah
rahang dengan cara memutar kekiri pada skala putar hingga benda dapat
dimasukkan ke rahang
3. Letakkan benda yang diukur pada rahang, dan putar kembali sampai tepat
4. Putarlah pengunci sampai skala putar tidak dapat digerakkan dan terdengar bunyi ‘klik’
Cara membaca Skala dan penulisan hasil pengukuran :
1. Perhatikan skala putar berada pada angka berapa pada skala utama
Benda yang anda pilih memiliki panjang skala utama 4,5 mm
2. Perhatikan penunjukan pada skala putar. Angka 39 pada skala putar berimpit dengan garis mendatar pada skala utama.
Maka pembacaan mikrometer tersebut =
4.5 + ( 39 x 0.01 )
4.5 + 0.39
Jadi panjang benda adalah 4.89 mm
3. Letakkan benda yang diukur pada rahang, dan putar kembali sampai tepat
4. Putarlah pengunci sampai skala putar tidak dapat digerakkan dan terdengar bunyi ‘klik’
Cara membaca Skala dan penulisan hasil pengukuran :
1. Perhatikan skala putar berada pada angka berapa pada skala utama
Benda yang anda pilih memiliki panjang skala utama 4,5 mm
2. Perhatikan penunjukan pada skala putar. Angka 39 pada skala putar berimpit dengan garis mendatar pada skala utama.
Maka pembacaan mikrometer tersebut =
4.5 + ( 39 x 0.01 )
4.5 + 0.39
Jadi panjang benda adalah 4.89 mm
NERACA OHAUSS
Neraca Ohaus
adalah alat untuk mengukur massa benda dan prinsip neraca Ohaus adalah sekedar
membanding massa benda yang akan dikur dengan anak timbangan atau prinsip kerja
tuas. Neraca dibedakan menjadi beberapa jenis, seperti neraca analitis dua
lengan, neraca Ohauss, neraca lengan gantung, dan neraca digital.
Neraca Analitis Dua Lengan Neraca ini berguna untuk mengukur massa benda, misalnya emas, batu, kristal benda, dan lain-lain. Batas ketelitian neraca analitis dua lengan yaitu 0,1 gram.
Neraca Ohauss Neraca ini berguna untuk mengukur massa benda atau logam dalam praktek laboratorium. Kapasitas beban yang ditimbang dengan menggunakan neraca ini adalah 311 gram. Batas ketelitian neraca Ohauss yaitu 0,1 gram.
Neraca Lengan Gantung Neraca ini berguna untuk menentukan massa benda, yang cara kerjanya dengan menggeser beban pemberat di sepanjang batang.
Neraca Digital Neraca diigital (neraca elektronik) di dalam penggunaanya sangat praktis, karena besar massa benda yang diukur langsung ditunjuk dan terbaca pada layarnya.Ketelitian neraca digital ini sampai dengan 0,001 gram.
Neraca Analitis Dua Lengan Neraca ini berguna untuk mengukur massa benda, misalnya emas, batu, kristal benda, dan lain-lain. Batas ketelitian neraca analitis dua lengan yaitu 0,1 gram.
Neraca Ohauss Neraca ini berguna untuk mengukur massa benda atau logam dalam praktek laboratorium. Kapasitas beban yang ditimbang dengan menggunakan neraca ini adalah 311 gram. Batas ketelitian neraca Ohauss yaitu 0,1 gram.
Neraca Lengan Gantung Neraca ini berguna untuk menentukan massa benda, yang cara kerjanya dengan menggeser beban pemberat di sepanjang batang.
Neraca Digital Neraca diigital (neraca elektronik) di dalam penggunaanya sangat praktis, karena besar massa benda yang diukur langsung ditunjuk dan terbaca pada layarnya.Ketelitian neraca digital ini sampai dengan 0,001 gram.
Cara
menggunakan Neraca Ohauss :
Dalam
mengukur massa benda dengan neraca Ohaus dua lengan atau tiga lengan sama. Ada
beberapa langkah di dalam melakukan pengukuran dengan menggunakan neraca ohaus,
antara lain:
1. Melakukan kalibrasi terhadap neraca yang akan digunakan untuk menimbang, dengan cara memutar sekrup yang berada disamping atas piringan neraca ke kiri atau ke kanan posisi dua garis pada neraca sejajar;
2. Meletakkan benda yang akan diukur massanya;
3. Menggeser skalanya dimulai dari yang skala besar baru gunakan skala yang kecil. Jika panahnya sudah berada di titik setimbang 0; dan
4. Jika dua garis sejajar sudah seimbang maka baru memulai membaca hasil pengukurannya.
Cara membaca skala dan penulisan hasil pengukuran :
Untuk membaca hasil pengukuran menggunakan Neraca dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
• Bacalah Skala yang ditunjukkan oleh anting (pemberat) pada masing-masing lengan neraca.
• Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan :
Hasil Pengukuran (xo) = Penjumlahan dari masing-masing Lengan
Misalnya pada neraca Ohauss III lengan berarti hasilnya= LenganI + Lengan II +Lengan III.
Seperti halnya pada alat ukur panjang, hasil pengukuran menggunakan neraca dapat anda laporkan sebagai :
Massa M = xo ± ketidakpastian
Contoh :
1. Melakukan kalibrasi terhadap neraca yang akan digunakan untuk menimbang, dengan cara memutar sekrup yang berada disamping atas piringan neraca ke kiri atau ke kanan posisi dua garis pada neraca sejajar;
2. Meletakkan benda yang akan diukur massanya;
3. Menggeser skalanya dimulai dari yang skala besar baru gunakan skala yang kecil. Jika panahnya sudah berada di titik setimbang 0; dan
4. Jika dua garis sejajar sudah seimbang maka baru memulai membaca hasil pengukurannya.
Cara membaca skala dan penulisan hasil pengukuran :
Untuk membaca hasil pengukuran menggunakan Neraca dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
• Bacalah Skala yang ditunjukkan oleh anting (pemberat) pada masing-masing lengan neraca.
• Hasil pengukuran dinyatakan dengan persamaan :
Hasil Pengukuran (xo) = Penjumlahan dari masing-masing Lengan
Misalnya pada neraca Ohauss III lengan berarti hasilnya= LenganI + Lengan II +Lengan III.
Seperti halnya pada alat ukur panjang, hasil pengukuran menggunakan neraca dapat anda laporkan sebagai :
Massa M = xo ± ketidakpastian
Contoh :
Misalnya,Lengan
pertama sebesar 0 gram
Misalnya,Lengan kedua sebesar 40 gram
Misalnya, Lengan ketiga sebesar 7 gram
Misalnya,Lengan keempat sebesar 0,52 gram
Lengan I + Lengan II + Lengan III + Lengan IV
Misalnya,Lengan kedua sebesar 40 gram
Misalnya, Lengan ketiga sebesar 7 gram
Misalnya,Lengan keempat sebesar 0,52 gram
Lengan I + Lengan II + Lengan III + Lengan IV
0 gram + 40
gram + 7 gram + 0,52 gram
47,52 gram
Jadi massa
benda tersebut adalah:
Massa = xo ± ketidakpastian
= 47,52 gram ± 0,05 gram
Sehingga massa benda tersebut berkisar antara 47,47 gram sampai 47,57 gram.
Massa = xo ± ketidakpastian
= 47,52 gram ± 0,05 gram
Sehingga massa benda tersebut berkisar antara 47,47 gram sampai 47,57 gram.
STOPWATCH
Stopwatch memiliki ketelitian 0,1 detik,
karena setiap 1 skala pada stopwatch di bagi menjadi 10 bagian. Alat ini
biasanya di gunakan untuk mengukur waktu dalam olahraga atau dalam
penelitian-penelitian.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan
dalam penggunaan stopwatch adalah sebagai berikut:
a. Menyiapkan stopwatch yang akan digunakan untuk mengukur.
b. Memastikan bahwa keadaan stopwatch dalam keadaan nol atau telah terkalibrasi.
c. Menekan tombol start untuk memulai pengukuran waktu.
d. Menekan tombol stop untuk mengakhiri pengukuran waktu.
e. Membaca hasil pengukuran.
f. Untuk mengulangi pengukuran maka menekan tombol start/stop 1 kali dan jarum akan kembali ke nol kemudian tekan tombol start lagi untuk melakukan pengukuran kembali dan stop untuk mengakhiri. Begitu seterusnya.
a. Menyiapkan stopwatch yang akan digunakan untuk mengukur.
b. Memastikan bahwa keadaan stopwatch dalam keadaan nol atau telah terkalibrasi.
c. Menekan tombol start untuk memulai pengukuran waktu.
d. Menekan tombol stop untuk mengakhiri pengukuran waktu.
e. Membaca hasil pengukuran.
f. Untuk mengulangi pengukuran maka menekan tombol start/stop 1 kali dan jarum akan kembali ke nol kemudian tekan tombol start lagi untuk melakukan pengukuran kembali dan stop untuk mengakhiri. Begitu seterusnya.
Cara membaca hasil pengukuran :
Apabila
telah ditekan tombol stop maka di alat ukur waktu(stopwatch) tertulis hasil
pengukurannya.
Prinsip-prinsip Pengukuran :
Yang dimaksud dengan prinsip di sini adalah panduan
atau tuntunan dalam melakukan kegiatan pengukuran agar tercapai fungsi yang
diharapkan. Untuk menetapkan dan melaksanakan suatu program evaluasi yang
berhasil, kita harus mengetahui beberapa prinsip-prinsip sebagai berikut:
- Suatu program pengukuran dan evaluasi harus selaras dengan landasan falsafah pendidikan dan kebijakan lembaga pendidikan yang bersangkutan.Hal ini penting untuk mencegah terjdinya konflik dan bermanfaat untuk memperlancar dukungan serta kerjasama baik di antara guru pendidikan jasmani maupun antara guru dengan pimpinan.
- Pengukuran harus dilakukan berdasar tujuan program dan dilaksanakan dalam rangka pengembangan atau penyempurnaan tujuan. Dengan demikian tujuan yang ingin dicapai harus jelas, demikian juga pentahapannya harus sesuai dengan hukum pertumbuhan dan perkembangan anak. Evaluasi merupakan alat untuk mengendalikan program agar tepat sasarannya.
- Testing adalah bagian dari pengukuran, dan pengukuran merupakan bagian dari evaluasi. Testing bertujuan untuk menyediakan informasi yang akan digunakan untuk keperluan evaluasi.
- Hasil testing harus ditafsirkan dalam konteks perkembangan individu secara menyeluruh yang mencakup aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, dan moral. Prinsip ini berhubungan dengan pemilihan alat ukur atau tes yang akan digunakan, pembatasan ruang lingkup untuk setiap tingkatan kelas atau jenjang pendidikan.
- Testing dalam pendidikan jasmani dan kesehatan berawal dari anggapan dasar bahwa semua atribut pada seseorang dapat dites dan diukur. Selain dimensi fisik atau ketrampilan, kemampuan kognitif yang menyangkut pengetahuan atau pemecahan masalah, dan dimensi afektif yang menyangkut sifat kepribadian, semuanya pada dasarnya dapat diukur atau dites. Namun atribut yang dites itu hanya berupa cuplikan atau sample yang dianggap dapat mewakili sifat yang dimaksud secara keseluruhan. Dalam pendidikan jasmani dan kesehatan, kita tidak pernah memperoleh skor absolut karena selalu ada galat atau penyimpangan dari skor yang sebenarnya. Dengan kata lain, skor yang diperoleh adalah skor yang sebenarnya bitambah dengan penyimpangannya.
- Kemampuan awal siswa harus diketahui untuk selanjutnya dibandingkan dengan hasil tes dalam kesempatan berikutnya. Selisih antara tes awal dan tes akhir menunjukkan perubahan dalam bentuk skor perolehan, atau paparan deskriptif.
- Mutu tes atau alat ukur harus diperhatikan karena akan mempengaruhi mutu data yang diperoleh. Mutu evaluasi bergantung pada mutu data, dan mutu data bergantung pada mutu tes atau alat ukur. Oleh karenanya tes yang dipilih harus valid, reliabel.
Aturan Angka Penting :
o Angka nol
yang terletak di antara dua angka bukan nol merupakan angka penting. Contoh : 1208
memiliki empat angka penting. 2,0067 memiliki lima angka penting.
o Semua angka
nol yang digunakan hanya untuk tempat titik desimal bukan merupakan angka
penting. Contoh : 0,0024 memiliki dua angka penting, yakni 2 dan 4
o Semua angka
nol yang terletak pada deretan terakhir dari angka-angka yang ditulis di
belakang koma desimal merupakan angka penting. Contoh 1 : 0,003200
memiliki empat angka penting, yaitu 3, 2 dan dua angka nol setelah angka 32. Contoh
2 : 0,005070 memiliki empat angka penting yakni 5,0,7,0. Contoh 3
: 20,0 memiliki dua angka penting yakni 2 dan 0
o
Semua angka sebelum orde (Pada notasi ilmiah) termasuk
angka penting. Contoh : 3,2 x 105 memiliki dua angka penting,
yakni 3 dan 2. 4,50 x 103 memiliki tiga angka penting, yakni
4, 5 dan 0
Pengertian besaran pokok dan besaran turunan :
Besaran
pokok adalah besaran yang satuannya telah ditetapkan terlebih dahulu dan tidak
bergantung pada satuan-satuan besaran lain serta digunakan untuk mendefenisikan
besaran lain. Contoh : Panjang, Massa, waktu, kuat arus listrik, suhu, jumlah
zat, intensitas cahaya. Tiap besaran pokok tersebut memiliki dimensi
tersendiri.
Besaran pokok tersebut merupakan
ciptaan Allah SWT yang yang telah ditetapkan ukuran-ukuran tertentu dengan rapi
sesuai eksistensinya. Jadi besaran-besaran yang dikembangkan oleh manusia
secara tidak langsung merupakan ayat-ayat Allah yaitu Alam semesta ini beserta
isinya. Allah SWT telah menciptakan keteraturan-keteraturan pada alam semesta
ini, dan dari sunnatullah inilah besaran-besaran fisika itu ditumbuh-kembangkan
hingga melahirkan Iptek yang sangat populer saat ini dan menjamur penggunaannya
di segala bidang. Keterangan tentang hal ini juga dapat dipetik dari beberapa
ayat-ayat Allah SWT dalam Al-Qur’an, seperti berikut ini:
QS. Al-Furqon (25) : 2
Artinya : Yang kepunyaan-Nya-lah
kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu
bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia
menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya[1053].
QS. Ar-Raad : 8
Artinya: Allah mengetahui apa yang dikandung
oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang
bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.
” QS. Ar-Rahman (55) : 33;
Artinya : Hai jama'ah jin dan
manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka
lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.
QS. Ash Talaq : 3
Artinya : Dan memberinya rezki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
QS. Fathir : 43
Artinya : (Bagi mereka) syurga 'Adn
mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan
gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka didalamnya
adalah sutera.
QS. Asy-Suraa : 17
Artinya : Allah-lah yang menurunkan
kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan
tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat ?
QS. Al-Qamar : 49
Artinya : Sesungguhnya Kami
menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
Besaran Turunan adalah besaran yang satuannya
diturunkan dari beberapa satuan besaran pokok. Contoh : Luas, Kecepatan, Percepatan,
Gaya, Usaha, Tekanan, daya., dan lain-lain. Tiap besaran turunan memiliki pula
dimensi tersendiri yang dapat diturunkan dari dimensi besaran-besaran pokok.
Dimensi suatu besaran adalah merupakan cara besaran
itu tersusun dari besaran-besaran pokok. Untuk meningkatkan keimanan kita dari
pembahasan ini, maka konsep dimensi dan ruang dapat ditelaah lewat firman Allah
SWT yang artinya seperti berikut ini.
(QS. Fushshilat (41) :53)
Artinya : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka
tanda-tanda (kekuasaan) Kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri,
sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah
Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala
sesuatu”.
Kata tanda - tanda (kekuasaan)
Allah “ tersirat sifat dan prilaku seluruh ciptaan-Nya dengan berbagai proses
alami dan gejala-gejala alam. Kata disegenap ufuk mengandung arti selain
berlaku sebagai dimensi ruang (volume) juga termasuk dalam makna beberapa
dimensi besaran-besaran lain. Secara umum dimensi diartikan sebagai ukuran
ruang, ada ukuran panjang ( dimensi panjang), ada ukuran luas (dimensi luas).
Alam beserta isinya sebagai
sunnatullah telah ditetapkan “ukurannya “ yang mengandung dua makna ilmiah
yaitu sebagai bilangan dengan sifat dan ketelitian yang terkandung di dalamnya
dan yang kedua sebagai hukum dan aturan yang berlaku sempurna. Makna ukuran
baik yang berperan sebagai bilangan maupun hukum atau aturan, keduanya tersusun
sangat rapi dan sistematis serta berhubungan sempurna satu sama lain dengan
penuh keteraturan.
Bukti ilmiah bahwa alam ini
diciptakan dengan ukuran yang tepat dapat diperoleh informasinya yang otentik
dari firman Allah SWT QS. Al-Qamar (54) : 49 dan Al-Furqan (25) : 2.
Dari Kedua ayat ini kita
menemukan isyarat bahwa kata “ ukuran” mengandung dua makna yang penuh hikmah,
yaitu :
1. Menyatakan sebagai bilangan dengan sifat dan
ketelitian di dalamnya
2. Menyatakan sebagai hukum dan aturan Allah Yang
Maha Sempurna Ukuran tersebut, baik berperan sebagai bilangan maupun sebagai
aturan/hukum, keduanya tersusun dalam suatu sistematika yang sangat rapi dengan
keterkaitannya satu sama lain.
Telah teruji secara ilmiah bahwa
hukum-hukum Fisika akan selalu berlaku kapan dan dimanapun. Artinya, tidak
hanya berlaku pada benda mati atau yang disebut materi/zat, namun juga berlaku
pada keseluruhan prilaku makhluk hidup termasuk manusia sebagai makhluk ciptaan
Allah yang termulia.
Cermati Juga Firman Allah SWT berikut ini !
QS. Ar-Ra’d (13) : 8;
Artinya : Allah mengetahui apa yang
dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan
yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.
Faathir (35) : 43;
Artinya : karena kesombongan
(mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang
jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.
Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang
telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu[1261]. Maka
sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan
sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.
Ath Thalaaq (65) : 3
Artinya : Dan memberinya rezki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan
urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan
bagi tiap-tiap sesuatu.
Ungkapan ukuran-ukurannya dengan
serapi-rapinya, mengandung makna bahwa sesungguhnya alam semesta ini diciptakan
memiliki besaran-besaran tersendiri yang ditunjukkan oleh gejala-gejalanya yang
berlangsung secara teratur dan tersusun rapi. Sehingga benda apapun di alam ini
sebagai ciptaan Allah, di ruang manapun berada, semua ukuranya telah ditetapkan
sesuai dengan besaran dan eksistensinya diciptakan. Artinya tak satupun ciptaan
Allah yang sia-sia, semua penuh hikmah yang tak akan habis dikaji oleh manusia
sampai kapanpun (QS. Ali Imran Ayat 190-191)
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Jangka sorong merupakan salah satu alat ukur yang dilengkapi dengan skala nonius, sehingga tingkat ketelitiannya mencapai 0,02 mm dan ada juga yang ketelitiannya 0,05 mm. Tanpa nonius, jangka sorong mempunyai nst (nilai skala terkecil) skala utama sebesar 1 mm dan batas ukur mencapai 150 mm. Pada nonius jangka sorong biasanya didapatkan 49 skala utama sama dengan 50 bagian skala nonius. Sehingga jarak antara 2 skala nonius yang berdekatan adalah 49/50 = 0,98 mm. Jadi, nst skala nonius sebesar :
Nst = 1 mm – 0,98 mm = 0,02 mm
Atau
Nst = (nst tanpa nonius) = (1 mm) = 0,02 mm
Jangka sorong merupakan salah satu alat ukur yang dilengkapi dengan skala nonius, sehingga tingkat ketelitiannya mencapai 0,02 mm dan ada juga yang ketelitiannya 0,05 mm. Tanpa nonius, jangka sorong mempunyai nst (nilai skala terkecil) skala utama sebesar 1 mm dan batas ukur mencapai 150 mm. Pada nonius jangka sorong biasanya didapatkan 49 skala utama sama dengan 50 bagian skala nonius. Sehingga jarak antara 2 skala nonius yang berdekatan adalah 49/50 = 0,98 mm. Jadi, nst skala nonius sebesar :
Nst = 1 mm – 0,98 mm = 0,02 mm
Atau
Nst = (nst tanpa nonius) = (1 mm) = 0,02 mm
Mikrometer sekrup adalah alat ukur panjang yang
memiliki tingkat ketelitian tertinggi. Tingkat ketelitian mikrometersekrup
mencapai 0,01 mm atau 0,001 cm. Dengan ketelitiannya yang sangat tinggi,
mikrometersekrup dapat digunakan untuk mengukur dimensi luar dari benda yang
sangat kecil maupun tipis seperti kertas, pisau silet, maupun kawat. Secara
luas, mikrometersekrup digunakan sebagai alat ukur dalam teknik mesin elektro
untuk mengukur ketebalan secara tepat dari blok-blok, luar dan garis tengah
dari kerendahan dan batang-batang slot.
Neraca Ohaus adalah alat untuk mengukur massa
benda dan prinsip neraca Ohaus adalah sekedar membanding massa benda yang akan
dikur dengan anak timbangan atau prinsip kerja tuas. Neraca dibedakan menjadi
beberapa jenis, seperti neraca analitis dua lengan, neraca Ohauss, neraca
lengan gantung, dan neraca digital.
Neraca Analitis Dua Lengan Neraca ini berguna untuk mengukur massa benda, misalnya emas, batu, kristal benda, dan lain-lain. Batas ketelitian neraca analitis dua lengan yaitu 0,1 gram.
Neraca Analitis Dua Lengan Neraca ini berguna untuk mengukur massa benda, misalnya emas, batu, kristal benda, dan lain-lain. Batas ketelitian neraca analitis dua lengan yaitu 0,1 gram.
Stopwatch memiliki ketelitian 0,1 detik, karena setiap 1
skala pada stopwatch di bagi menjadi 10 bagian. Alat ini biasanya di gunakan
untuk mengukur waktu dalam olahraga atau dalam penelitian-penelitian.
Prinsip-prinsip
pengukuran :
·
Suatu program pengukuran dan evaluasi harus selaras
dengan landasan falsafah pendidikan dan kebijakan lembaga pendidikan yang bersangkutan
·
Pengukuran harus dilakukan berdasar tujuan program dan
dilaksanakan dalam rangka pengembangan atau penyempurnaan tujuan.
- Testing adalah bagian dari pengukuran, dan pengukuran merupakan bagian dari evaluasi. Testing bertujuan untuk menyediakan informasi yang akan digunakan untuk keperluan evaluasi.
- Hasil testing harus ditafsirkan dalam konteks perkembangan individu secara menyeluruh yang mencakup aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, dan moral.
Aturan angka penting :
o Angka nol
yang terletak di antara dua angka bukan nol merupakan angka penting. Contoh : 1208
memiliki empat angka penting. 2,0067 memiliki lima angka penting.
Pengertian besaran
pokok dan besaran turunan
·
Besaran pokok
adalah besaran yang satuannya telah ditetapkan terlebih dahulu dan tidak
bergantung pada satuan-satuan besaran lain serta digunakan untuk mendefenisikan
besaran lain.
·
Besaran Turunan
adalah besaran yang satuannya diturunkan dari beberapa satuan besaran pokok
Saran :
Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari teman-teman
yang bersifat membangun sangat saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar